KESEMPURNAAN MENGHARUNGI HIDUP DUNIA DAN AKHIRAT DALAM ILUSTRASI SENI DAN IMAJINASI

Archive for January, 2011

Astaga, Ada Anjing Beranak Ayam!

Kejadian janggal itu diketahui pertama kali oleh Anarcky Syaedh, yang saat kejadian sedang tidur di rumah Lembap Anis, tetangganya. Sementara anjing betina warna belang dengan bulu putih, cokelat muda, dan hitam yang sedang bunting milik Sofia Sawo yang juga tetangga Lembap dibaringkan di bagian dapur (ruang belakang) rumah Lembap.

“Saya terbangun waktu HP saya berbunyi, dan waktu itu terdengar suara anak ayam. Saya pikir anjing di belakang sedang memangsa anak ayam, ternyata waktu saya lihat sudah lahir anak anjing, dan ada juga seekor anak ayam yang sedang dijilat-jilat induk anjing,” kata Anarcky, Minggu (2/1/2011), di Ende.

Anarcky kemudian ke rumah Sofia untuk memberitahukan bahwa anjingnya sudah beranak. Namun, ketika dia kembali, tubuh anak ayam itu sudah bersih dari cairan merah dan terlihat jelas bulu-bulu hitamnya.

Anjing milik Sofia itu biasa dipanggil Dongki. Kejadian ini memang secara logika tidak masuk akal, dimungkinkan saja induk anjing itu menemukan anak ayam di tempat lain lalu dibawa ke rumah kandangnya yang beralaskan kasur kapuk bekas.

Kemungkinkan lainnya, ada seseorang yang meletakkan anak ayam itu di dekat induk anjing atau apakah anjing itu telah menelan telur ayam? Anak ayam itu pun sempat berkeciap dan berdiri di dekat induk anjing.

Perkiraan orang bisa saja. Tapi, kalau ini bukan anak dari anjing tersebut, mengapa induk anjing mau membersihkan (menjilat-jilat) badan anak ayam itu dan bahkan melindungi si ayam ketika banyak orang berkerumun mau menonton.

“Padahal, anjing ini juga sering memangsa anak ayam milik tetangga, tapi mengapa anak ayam ini tidak dimakannya. Dan waktu melahirkan, tentu anjing ini dalam keadaan lapar, tapi anak ayam itu tidak diapa-apakan,” kata Paulus Segha, tokoh masyarakat Kampung Nuakota.

Anarcky juga mengungkapkan, dirinya sebelum terbangun pagi itu sempat bermimpi dikeroyok sejumlah orang, dan dadanya sempat terkena tendangan yang membuat dadanya sakit.

“Tiba-tiba, datang seorang laki-laki yang menopang badannya dan membela Anarcky, akan tetapi laki-laki misterius itu kalah dan mati, dan wujud nya berubah menjadi seekor ayam. Begitu melihat ayam itu mati, saya seperti mendengar dering HP, tapi waktu saya angkat tidak ada yang bicara, lalu terdengar suara anak ayam itu,” ujar Anarcky.

Kejadian tersebut cepat menyebar dari mulut ke mulut. Masyarakat sekitar kota Ende pun mulai berdatangan untuk menonton. Yang disayangkan, anak ayam itu akhirnya mati sekitar 14 jam atau sekitar pukul 20.00 WITA, Sabtu (1/1/2011) malam.

Menurut Paulus, dari kejadian ganjil itu merupakan tanda yang akan terjadi di kampung itu atau ada sesuatu yang akan dialami oleh pemilik anjing maupun pemilik rumah. Sementara itu, suasana di lapangan kemarin siang, di rumah Lembap sudah tidak ada lagi pengunjung. Hal itu dimungkinkan karena anak ayam sudah mati.

Ayam itu mati diperkirakan karena lemas, akibat terlalu banyak orang yang ingin memegangnya dan si induk anjing juga mendekapnya erat-erat. Bahkan, kalau anak ayam itu makin jauh, segera ditarik untuk mendekat dengan induk anjing tersebut.

Namun, Sofia Sawo, pemilik anjing, meski ayam sudah mati, dia tidak mau menguburkan bangkai ayam tersebut dengan alasan dirinya mendapat pesan dari roh nenek moyang lewat mimpi.

“Saya mendapat pesan supaya (bangkai) anak ayam itu dibiarkan saja. Kalau pun hilang dengan sendirinya atau diambil orang tidak apa-apa, yang penting jangan dikubur,” kata Sofia, yang sehari-hari bekerja sebagai tukang urut dan dukun bayi.

sumber: Kompas

Advertisements

Puluhan Miliar Rupiah Dibakar 13 Korban Mercon Masuk RS

Puluhan miliar rupiah dibakar. Itulah kesan yang dilontarkan warga Denpasar setelah menyaksikan pesta kembang api menjelang detik-detik pergantian tahun 2010 menuju 2011, Sabtu dini hari (1/1).

Yang berbeda dari tahun lalu, pusat keramaian dan pesta kembang api tak hanya di Lapangan Renon dan Puputan Badung, nyaris di semua banjar dan dusun terlihat pesta kembang api.

Namun gegap gempita menyambut Tahun Baru 2011 pada Jumat (31/12) lalu tidak hanya menyisakan kegembiraan tetapi juga malapetaka bagi sebagian orang. Di tengah ingar-bingar dentuman mercon, petasan dan kembang api menyambut tahun baru puluhan orang terkena imbasnya. Berdasarkan data di rumah sakit sekitar 13 orang datang ke RS Sanglah karena menderita luka-luka akibat kena serpihan mercon, kembang api, dan petasan.

Para korban tersebar di berbagai daerah di Bali yaitu Denpasar, Jimbaran, Klungkung, Kuta, Gianyar, sampai Tabanan. Kebanyakan korban mengalami luka di tangan, mata dan bibir. Paling parah ada korban yang tangannya nyaris putus akibat ledakan mercon. Korban tersebut adalah Totok Sriwahyudi (34) warga Jalan Hayam Wuruk. Tangan kanannya cedera karena mercon dengan ukuran cukup besar justru meledak saat masih dipegang. Ia dilarikan ke RS Sanglah Jumat (31/1) malam dan sempat dirawat semalam sebelum akhirnya diperbolehkan pulang Sabtu (1/1) pagi kemarin.

Hal yang sama dialami keluarga Kusuma Wardana di Puri Kesiman. Tangannya terkelupas akibat terkena percikan mercon berukuran besar. Sementara dapur Gunawan di Banjar Pabean terbakar diduga kuat kena percikan mercon. Mercon juga tidak hanya mencederai orang dewasa. Balita pun ikut terkena imbasnya. Seperti yang dialami Putri Apriyanti (2) dari Uluwatu yang bibirnya terluka karena terkena serpihan mercon. Ada juga Andi (8) asal Blahkiuh yang matanya terkena serpihan mercon. Korban mercon, petasan, dan kembang api lainnya yang masuk RS Sanglah adalah Eka Adnyana (21) dari Tabanan, Kadek Agus Darmawan (30) warga Jalan Kebo Iwa, I Gusti Ngurah Sumardika (27) dari Gianyar, Arif Yulianto (25) dari Tibubeneng, Kadek Permadi (27) dari Klungkung, Made Arta (25) dari Tabanan, Jeni Setiawan (23) dari Kesiman, Made Jopana (20) dari Gianyar, Komang Prionata Wibawa (18) dari Kediri Tabanan, dan Rahmat (20) warga Jalan By-pass Ngurah Rai. Semua korban setelah dirawat lukanya diperbolehkan pulang dan menjalani rawat jalan.

Koordinator BSB RS Sanglah, dr. Kuning Atdmadjaya, Sp.B., saat dihubungi Sabtu kemarin, mengatakan kebanyakan korban mengalami luka baik di tangan maupun mata. Jika dibandingkan dengan angka kejadian menyambut tahun 2010, korban mercon kali ini meningkat cukup tajam. “Jika tahun lalu tercatat lima orang yang terluka akibat mercon dibawa ke RS Sanglah, maka tahun ini jumlahnya mencapai 13 orang,” ujar Kuning.

Diguyur Hujan

Kekhawatiran sejumlah warga Kota Denpasar akan tidak bersahabatnya cuaca di malam pergantian tahun, Jumat (31/12) lalu, akhirnya menjadi kenyataan. Betapa tidak, di tengah semaraknya perayaan malam pergantian tahun, tiba-tiba hujan lebat mengguyur Kota Denpasar dan sekitarnya. Bukan saja hujan yang cukup deras, namun petir yang sambung-menyambung membuat perayaan malam tahun baru di seputaran Denpasar sedikit terganggu. Bahkan, tidak sedikit sejumlah kegiatan harus ditiadakan, karena diguyur hujan lebat.

Pantauan di sejumlah titik konsentrasi warga Denpasar yang ingin merayakan tahun baru, sejatinya cukup ramai. Seperti yang terlihat di pusat Kota Denpasar, Lapangan Puputan Badung, warga sudah mulai memadatai lokasi ini sejak pukul 16.00 wita. Terlebih di kawasan ini Pemkot Denpasar menggelar kegiatan khusus yakni melepas matahari 2010 dengan aneka atraksi seni tradisional dan kolaborasi.

Beruntungnya, kegiatan melepas matahari 2010 yang dikomandoi Dinas Kebudayaan Denpasar tersebut dapat berjalan tanpa diganggu hujan. Setelah acara tersebut, kumpulan warga yang ingin merayakan pergantian tahun masih tetap tinggal di kawasan nol kilometer Kota Denpasar tersebut. Namum, setelah memasuki pukul 20.00 wita, gerimis mulai turun di kawasan itu. Bahkan, semakin lama, hujan semakin lebat, sehingga sebagian warga harus meninggalkan lokasi tersebut.

Bukan saja di Lapangan Puputan yang ramai, di kawasan Pantai Sanur juga tidak kalah ramai. Warga yang sudah melengkapi diri dengan aneka macam terompet juga terlihat berkumpul membuat kelompok-kelompok kecil ingin menikmati pergantian tahun di pantai. Namun, mereka juga terlihat membatalkan niatnya tersebut karena hujan cukup lebat turun di kawasan wisata tertua di Bali itu. ”Karena turun hujan, kami lebih baik memilih pulang,” ujar Putu Asa, warga Kesiman yang ingin merayakan pergantian tahun di pantai. Beruntungnya, warga yang ingin bermain kembang api saat pergantian tahun sedikit terobati. Pasalnya, ketika menjelang detik-detik pergantian tahun, hujan sedikit reda. Akibatnya, langit di atas Kota Denpasar yang masih bergelayut mendung disemarakkan dengan bias sinar kembang api aneka warna. Ditambah lagi dengan suara letusan yang cukup keras dari kembang api yang meluncur, menambah semaraknya pergantian tahun 2010 ke 2011 ini. (kmb24/kmb12)

sumber: Bali Post