KESEMPURNAAN MENGHARUNGI HIDUP DUNIA DAN AKHIRAT DALAM ILUSTRASI SENI DAN IMAJINASI

Selasa, 13 September 2011 | 22:09

Kecantikan fisik dan kepribadian Miss Universe 2011, Leila Lopes (25) membuktikan ajang pemilihan ini bukan sekadar memilih perempuan cantik dari luar. Miss Universe harus mampu menginspirasi perempuan muda, menjadi sosok yang layak dibanggakan. Bukan hanya dibanggakan negara asalnya, namun juga menjadi panutan dunia.

Miss Universe 2011 asal Angola, Leila Lopes, menunjukkan kharismanya. Dalam sesi wawancara di babak lima besar, Lopes mengutarakan pendapatnya, sekaligus kebanggaan menjadi dirinya sendiri.

Cantik alami Lahir dengan nama lengkap Leila Luliana da Costa Vieira Lopes, perempuan yang lahir di Benguela, Angola, 26 Februari 1986 ini mensyukuri kecantikan alami yang dimilikinya, dan tak ingin mengubah apa pun yang dianugerahkan kepadanya.

Meski diburu waktu saat memberikan jawaban atas pertanyaan juri di babak lima besar, Leila Lopes dengan lugas menyatakan, “Saya melihat diri saya sebagai perempuan yang diberkati dengan inner beauty. Saya juga dibesarkan dengan prinsip hidup yang hebat dari keluarga saya. Dan yang terpenting adalah sikap saling menghargai satu sama lain,” tutur Lopes pada malam grand final Miss Universe 2011, di Sao Paulo, Brasil, 12 September 2011, Senin malam waktu setempat, atau Selasa (13/9/2011) pagi waktu Indonesia.

Dengan senyum menawan yang diakui Lopes sebagai senjatanya memenangkan kompetisi, mahasiswi manajemen bisnis di Inggris ini mempertahankan kecantikan alami. Menjawab pertanyaan mengenai rahasia cantiknya, Lopes mengaku tak pernah sekali pun menjalani operasi plastik. Resep cantiknya lahir dari kebiasaan baik seperti cukup tidur, minum banyak air, dan menggunakan tabir surya kapan saja dan di mana saja.

Pribadi yang matang Mengikuti pemilihan bergengsi dengan total 89 kontestan dari berbagai negara, bukan pekerjaan mudah. Hanya perempuan cantik dengan pribadi matang yang bisa melewati berbagai tahapan kompetisi ini. Perempuan bukan sekadar dinilai dari kecantikan wajah dan kemolekan tubuhnya. Kepribadian yang matang juga penting dan patut menjadi perhatian utama.

Ketika Miss Colombia, Catalina Robayo, terlihat tak memakai pakaian dalamnya, saat menghadiri acara resmi pada masa karantina, perempuan ini mendapat teguran dari penyelenggara.

Yayasan Miss Universe pun dibuat malu dengan insiden ini. Bahkan Colombia telah berbicara dengannya, dan meminta agar Catalina mengenakan pakaian dalam karena apa yang dilakukannya sangat tidak pantas. Masyarakat pun marah dengan kejadian tersebut; lantaran ada foto-foto dan penampilan di media dimana dia benar-benar memperlihatkan selangkangannya.

Etiket, kepribadian, wawasan, juga menjadi pertimbangan juri dalam memilih sosok bergelar Miss Universe. Leila Lopes dinilai memenuhi semua syarat ini dan layak mendapatkan gelar Miss Universe 2011, menggantikan Ximena Navarrete, Miss Universe 2010 asal Meksiko.

Membanggakan negara asal Miss Universe 2011, Leila Lopes berharap, kemenangannya mampu mengangkat negaranya dari sejarah kelam sebagai salah satu negara dengan perang berkepanjangan dan kemiskinan. Perang di Angola pecah pada tahun 1960-an, diikuti perang saudara setelah memperoleh kemerdekaan dari Portugal pada tahun 1975. Perang berakhir pada 2002.

“Saya juga ingin fokus melawan HIV di seluruh dunia,” tuturnya seperti dikuti AP. Leila Lopes dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Perempuan yang selalu tampil memesona di berbagai sesi preliminary Miss Universe 2011 ini, juga terlibat aktif dalam kegiatan sosial bersama anak-anak dari keluarga miskin, dan melawan HIV. “Dengan menjadi Miss Universe, saya yakin bisa berbuat sesuatu yang lebih banyak lagi nantinya,” tambahnya.

Memiliki warna kulit yang berbeda dari kebanyakan kontestan, Leila juga dihadapkan pada pertanyaan seputar rasisme. Dengan tegas Lopes menjawab, “Setiap orang yang masih bersikap rasis membutuhkan bantuan. Adalah hal yang tidak normal, pada abad 21 seperti ini, jika masih memiliki cara berpikir seperti itu (rasisme-RED).”

Dukungan memengaruhi kesuksesan Kesuksesan kontestan dalam pemilihan juga dipengaruhi oleh dukungan. Apalagi pada pemilihan ke-60 ini, penyelenggara menggunakan mekanisme voting online yang bisa diikuti seluruh warga dunia untuk mendukung kontestan favoritnya.

Kontestan asal Filipina, Shamcey Supsup (25) membuktikannya. Miss Filipina berhasil terpilih di Top 5 dan menduduki posisi Runner Up 3 Miss Universe 2011. Shamcey mendapat dukungan dari masyarakat Filipina dengan berbagai cara.

Personal branding juga penting dalam ajang seperti ini. Jauh hari sebelum malam final, tayangan mengenai profilnya begitu mudah disaksikan melalui YouTube misalnya. Bahkan, pendukung dari negaranya membuatkan theme song khusus untuk mempromosikan Miss Filipina di ajang Miss Universe 2011.

Mengenai kesiapan dan dukungan fans terhadap wakil negaranya di ajang Miss Universe, pendiri komunitas IndoPageants, Mukie Dardjati Muza menyampaikan pendapatnya.

“Beauty pageants di Indonesia belum menjadi budaya seperti di Filipina atau negara -negara Latin. Pemilihan seperti ini juga masih dipandang sebagai ajang unjuk kemolekan atau kecantikan saja. Padahal, kontestan atau wakil dari setiap negara merupakan individu dengan berbagai kelebihan. Sayangnya sisi kelebihan ini tidak diekspos. Namun justru masalah bikini lebih banyak dijadikan fokus perbincangan,” jelas Mukie saat temu media bersama Yayasan Puteri Indonesia di Graha Mustika Ratu, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Sebagai bentuk dukungan kepada kontestan Indonesia, Yayasan Puteri Indonesia mengajak masyarakat juga blogger untuk berpartisipasi dalam Global Fan Vote untuk memberikan suara kepada kontestan Indonesia, Nadine Alexandra Dewi Ames di ajang Miss Universe 2011.

Nadine memang tak lolos ke babak semifinal (16 besar). Meski begitu, perempuan berusia 20 ini telah menunjukkan kiprahnya mengharumkan nama Indonesia di tingkat dunia. Nadine, selama mengikuti karantina Miss Universe 2011, menorehkan kesan positif bagi juri juga kontestan lainnya.

Melalui batik dan wayang golek, Nadine berhasil mengenalkan kekayaan budaya dan pariwisata Indonesia. Belum lagi, busana nasional bertema “The Beauty of Wayang Golek” berhasil masuk nominasi The Best National Costume Miss Universe 2011. Adalah IndoPageants di balik gagasan busana wayang golek ini. Dan Guruh Soekarno Putera terpilih sebagai perancang yang menuangkan gagasan ke dalam rancangan busana seksi-elegan, kental dengan kearifan lokal.

Belajar dari Filipina Indonesia perlu belajar dari Filipina, juga Thailand dalam mempersiapkan kandidat kontestan Miss Universe, kata Mukie. Komunitas harus kuat dan solid memberikan dukungan. Berbagai pihak perlu terlibat, mulai desainer, tim artistik, praktisi komunikasi yang bisa mempromosikan Indonesia dengan berbagai kreativitas, juga komunitas online.

“Sebenarnya, Indonesia dan Filipina memiliki pengalaman yang sama dalam ajang pemilihan seperti ini, memulainya pada sekitar era 60-70-an. Hanya saja, Indonesia sempat terhenti prestasinya, apalagi sejak isu bikini menjadi fokus utama pada era Soeharto. Padahal banyak nilai positif lainnya dari ajang ini. Ajang seperti ini bisa menjadi salah satu cara membawa misi budaya di tingkat dunia,” jelas Mukie kepada Kompas Female.

Ajang Miss Universe juga bukan sekadar adu penampilan atau kecantikan. Melalui kompetisi, perempuan muda bisa belajar berkomunikasi dan berjejaring di tingkat pergaulan dunia. Sekaligus mengharumkan nama bangsa, kata Mukie.

Setelah Artika Sari Devi, Puteri Indonesia 2004 yang berhasil masuk 15 besar di ajang Miss Universe, Indonesia memang belum menunjukkan prestasi di beauty pageants bergengsi ini.

“Artika pernah sukses membawa nama Indonesia dengan masuk 15 besar. Saat itu usia Artika memang sudah matang. Kalau saja Nadine Chandrawinata mengikuti ajang Miss Universe saat ini, saat usianya semakin matang, saya yakin ia mampu berprestasi lebih di pemilihan tahun lalu. Pribadi yang matang memengaruhi kesuksesan di pemilihan. Sayangnya, kematangan usia dan kepribadian orang Indonesia dengan kontestan seusia dari negara maju berbeda jauh. Perempuan muda dari beberapa negara sudah lebih matang, mandiri, karena latar belakang budaya yang berbeda,” tandas Mukie.

Dre@ming Post______

sumber : kompas

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: